Ngain

 

….. goiril magekdubi ngalaihim

waladdoooliin…

aaamiiin

Di suatu petang, bergegas anak-anak itu berlarian menuju Langgar dekat rumah kami. Sarung masih dikalungkan di leher, sementara kopyah miring ke kanan atau kiri tak beraturan. Gelak tawa lirih kami berebut mengambil air wudhu menjadi nikmat yang tak terlupakan sepanjang masa. Saling menarik sarung, mengambil kopyah lalu melemparkan ke belakang biar dapat giliran dengan cepat (baca : curang). Tak ada rasa marah, tak ada  umpatan kedengkian. Yang ada hanya gelak tawa sambil ciprat-cipratan air wudhu yang ditampung di gentong tanah itu. Pak Imam, begitu kami biasa memanggilnya, bahkan sampai sekarang saya tidak tahu nama beliau siapa, hanya tersenyum melihat kelakuan kami. Aku tak tahu apa yang ada di benak beliau saat itu. Senyumnya yang penuh wibawa sambil membelai beberapa dari kami, meminta agar segera menyelesaikan wudhu karena Maghrib mau datang. Mas Tris, Sutrisno lengkapnya, segera menuju mimbar, berdiri di sebelah kiri sajadah imam, mengumandangkan adzan seperti biasanya. Puji-pujian dilantunkan segera setelahnya. Tombo ati yang masih populer sampai saat ini, sering dilagukan sembari menunggu Iqomat. Nadanya tidak berubah dari dulu, walau liriknya bervariasi, namun intinya tetap sama. Konon Sunan Bonanglah yang menciptakan lirik tersebut. Setelah dirasa cukup, Mas Tris segera berdiri mengumandangkan Iqomat. Kyai kampung itu segera menuju ke tempat Imam. Shalat kami laksanakan dipetang itu. Bacaan sholat beliau dengan dialek Jawa yang kental menjadi menu sehari-hari kami. Ngalamin, ngan ngamta ngalaihim, mustakim dll. Tak ada yang protes, ngrasani, apalagi mengejek bacaannya. Semua menghormatinya sebagai orang yang dituakan. Kalau ada kenduri beliau selalu yang memimpin doa.

Mendadak memori itu terlintas begitu saja semalam. Sambil tersenyum sendiri membayangkan keluguan orang-orang jaman itu. Jauh dari kedengkian, kecurigaan, hujat-menghujat. Kedamaian yang entah kapan lagi bisa dinikmati bangsa ini. Begitu lihainya pemerintah saat itu menjaga ketenangan masyarakatnya. Entah bagaimana caranya. Atau sebenarnya tidak sedamai yang aku rasakan. Mungkin karena masih anak-anak, belum memikirkan apa-apa jadi terasa damai. Yang mikir ya orang tua kita,  hahahaha.

Tentunya bukan alasan kenangan itu tergambar di benak saya. Media sosial kembali heboh. Alpatekah menjadi bintang utama dalam lakon ini. Alpatekah dengan bacaan Ngarab Njawani yang mungkin masih bisa kita dengar di pelosok Jawa, sebagai ‘warisan’ mbah-mbah kita jaman dulu. Dan masyarakat sekitar mungkin juga tidak akan meminta imamnya lengser. Lha wong memang itu yang mereka dengar sehari-hari. Itu imam kampung, beda kalau Pejabat yang melakukannya.

Apalagi sejak 2014…..

di negara ini setiap tahun adalah tahun politik

setiap bulan adalah bulan politik

setiap minggu adalah minggu politik

setiap hari adalah hari politik

Terusno dewe…

(puisi)

Sekarang coba saya lihat dari pemirsah aka suporter. Ada 3 (baca: lima) kubu dalam hal ini. Lho? Tenang, saya jelaskan dulu. Kubu 1 adalah pendukung Pejabat itu. Kubu 2 adalah pendukung oposisi itu atau bukan pendukung Pejabat itu. Kubu 3 berada di tengah-tengahnya alias netral. Lha yang 2 kemana? Kubu 1,5 adalah mereka yang (sok) netral tapi sedikit condong ke Pejabat itu. Kubu 2,5 adalah mereka yang (sok) netral namun sedikit memihak oposisi itu. Cermin mana cermin!

Kubu 1 tentunya segera melakukan pembelaan dengan mencari alasan-alasan pembenar dalam rangka mencegah jatuhnya wibawa Pejabat itu. Lalu saling membagi status-status senada seirama dengan nada dasar yang sama. Kubu 2 langsung menyiapkan wajan beserta minyak goreng panas penuh lemak sambil tidak lupa menyiapkan tepung ala fret ciken biar krispi, renyah tiada banding. Semua bahan dikumpulkan, sampai-sampai alpamaret dan indomaret kehabisan stok. Kubu 3 seperti biasa, kuul, kalem dan statusnya adem berusaha menjadi poros tengah.  Menghindari status-status provokatif. Kubu 1,5 dan kubu 2,5 ini biasanya jarang bikin status kalau ada kejadian seperti . Cuma komentarnya ada dimana-mana memenuhi status fesbuk kubu 1 atau 2. Bahkan bisa jadi komentarnya lebih panjang daripada status teman-temannya. Lha aku neng ndi Ndrooo? 

Begitulah suasini yang terjadi di negara ini, saat pimpinan pemerintahnya ‘salah’ menyebut salah satu surat yang wajib dibaca dalam sholat. Minimal 17 kali sehari semalam surat itu dibaca, sehingga seharusnya sudah menjadi sego jangan (kebiasaan). Penyebutan yang pernah menjadi ‘biasa’ di jaman dulu mendadak menjadi heboh. Banyak faktor, banyak alasan. Semua bisa dicari, dicari-cari, digali, digali-gali, sesuai keinginan masing-masing. Begitu seterusnya yang akan terjadi, entah sampai kapan. Rumput yang bergoyang pun tidak tahu jawabannya.

Saya tidak bicara kebenaran, saya bicara kubu-kubuan. Jadi, anda (saya) ada di kubu mana? Siapkan bahan!

 

Surabaya

baru 9 Oktober 2018 ya

1 November masih lama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s